Menurut PYM KGPAA Mangku Alam II, Negara Indonesia memiliki keunikan tersendiri.
“Negara kita ini unik, memiliki sekian ratus kerajaan dalam satu negara. Sementara negara lain, satu kerajaan satu negara. Dan alhamdulillah Matra saat ini menjadi organisasi adat dan budaya yang terbesar di Nusantara,”ungkapnya.
“Bahkan, sudah diakui terbesar se Asia. Kenapa? Karena kita membawahi 267 Raja dan Ketua Lembaga Adat se Nusantara. Dan itu kita buktikan di festival adat dan budaya Nusantara yang kami laksanakan di Jawa Tengah. Itu memecahkan rekor kehadiran Raja dan Ketua Lembaga Adat. Serta sudah diakui dari Jepang, Thailand, Brunai, Filiphina yang hadir. Menyatakan bahwa festival tersebut adalah festival budaya yang terbesar se Asia,” ulasnya.
Pihaknya menambahkan, melalui organisasi Matra harus selalu menjadikan adat dan budaya sebagai identitas bangsa. Serta wajib melestarikan budaya-budaya Indonesia agar tidak ditinggalkan hingga terancam hilang.
“Yang terpenting adalah semangat dan tujuan kita adalah mempertahankan adat dan kebudyaan. Jangan menyerah dan jangan pernah merasa putus asa dalam mempertahankan warisan leluhur kita. Karena kalau bukan kita yang mempertahankan siapa lagi,” ungkapnya.
“Kalau kita harapkan anak-anak atau para adik-adik generasi muda tanpa bimbingan kita. Pasti smua adat dan budaya kita akan hilang dengan sendirinya,” tandasnya.
Senada dengan Dewan Pendiri Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), PYM KGPAA Mangku Alam II. Ketua DPD Matra Kabupaten Jember, Q.Siti Kholifah Putri Mayangsari mengatakan, tugas adanya Matra tersebut sebagai pelindung adat dan budaya, yang siap mengemban tanggungjawab. Serta juga untuk melestarikan dan memajukan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Jember.
“Dengan terbentuknya DPD Matra Kabupaten Jember, kami semua para pengurus akan berusaha semaksimal mungkin bertanggungjawab terhadap adat dan budaya Nusantara yang adi luhung. Serta berusaha memperjuangkan kesenian dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Jember dapat di gali dan dikembangkan lagi,” ujarnya.
Pihaknya berpesan, jangan sampai para generasi-generasi muda tidak mengenal adat dan budayanya sendiri.
“Juga harus menjaga adap dan sopan santun terhadap seluruh masyarakat. Karena hal itu sebagai pegangan hidup dan bertolerasi diantara sesama,” pungkasnya.
“Serta para generasi muda harus mendukung pembangunan berkelanjutan, pelestarian alam, adat dan budaya Nusantara. Serta harus menjaga kesinambungan tradisi yang telah diteruskan dari generasi ke generasi,” tutupnya.///////









