Langgar Walisongo yang dibangun dengan ukuran 6 x 9 meter ini sebelumnya hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kini, bangunan tersebut telah berdiri kokoh dan digunakan secara rutin oleh masyarakat untuk kegiatan pengajian, khususnya setiap malam Sabtu.
Selain tempat ibadah, langgar ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kajian-kajian spiritual yang terbuka untuk semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ormas keagamaan.
Pengasuh Ponpes Jagad Sholawat, Gus Wahyu Nur Hafifi (Gus Nur), juga menyampaikan bahwa kehadiran langgar ini merupakan simbol keterbukaan, kebersamaan, dan persaudaraan lintas golongan.
“Langgar ini bukan milik satu kelompok. Ini rumah bersama. Kita terbuka bagi siapapun yang ingin menimba ilmu agama, baik dari NU, Muhammadiyah, ataupun yang lain. Yang penting membawa nilai-nilai kebaikan,” ujarnya.
Di akhir acara, Dandim berharap agar langgar ini dapat dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat. Ia menegaskan bahwa pembangunan ini adalah wujud komitmennya agar jabatan tidak membuat seseorang lupa akar budaya dan nilai-nilai spiritual.
“Kadang, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin mudah lupa asal-usul. Saya tidak mau seperti itu. Langgar ini menjadi pengingat bagi saya dan semoga jadi berkah untuk semuanya,” tutupnya.////////









