Cuaca Ekstrem Tutup Sementara Penyeberangan Ketapang, BMKG Banyuwangi Keluarkan Peringatan

by -46 Views
Wartawan: Ali Sam'ani
Editor: Herry W. Sulaksono
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Ibnu Haryo


Banyuwangi, seblang.com – Penyeberangan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sempat ditutup sementara pada Rabu pagi (21/1/2026) akibat kondisi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi menyebut cuaca di wilayah Banyuwangi dalam beberapa hari terakhir masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, disertai potensi petir dan angin kencang.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Ibnu Haryo, menjelaskan bahwa kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh adanya bibit siklon tropis di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa. Fenomena ini memicu pertemuan angin yang membawa uap air serta massa udara basah, sehingga meningkatkan potensi hujan di wilayah Jawa, termasuk Banyuwangi.


“Dalam beberapa hari terakhir, kondisi cuaca di Banyuwangi mulai pagi, siang, hingga malam hari masih berpotensi hujan ringan sampai sedang, kadang disertai petir dan angin kencang,” ujar Ibnu.

Menurutnya, penguatan angin baratan juga turut berkontribusi terhadap terjadinya cuaca ekstrem. Selain memicu hujan, angin kencang tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tinggi, khususnya di perairan selatan Banyuwangi.

“Untuk perairan Selat Bali, ketinggian gelombang hari ini hingga beberapa hari ke depan masih berkisar antara 0,2 hingga 1 meter atau dalam kategori rendah. Namun, kondisi cuaca tetap rawan hujan,” jelasnya.

Berbeda dengan Selat Bali, kondisi di perairan selatan Banyuwangi terpantau cukup berbahaya. BMKG mencatat tinggi gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter yang dipengaruhi langsung oleh bibit siklon tropis tersebut.

“Kondisi gelombang tinggi di perairan selatan Banyuwangi ini diperkirakan masih berlangsung hingga empat hari ke depan sehingga perlu diwaspadai,” tambahnya.

Ibnu juga menegaskan bahwa Banyuwangi saat ini berada pada puncak musim hujan yang secara klimatologis terjadi pada Januari hingga Februari. Pada periode ini, potensi hujan hampir terjadi setiap hari, meskipun tidak berlangsung sepanjang waktu.

“Musim hujan tidak berarti hujan sepanjang hari, begitu pula musim kemarau tidak selalu panas. Namun, Januari dan Februari memang merupakan puncak musim hujan,” katanya.

BMKG Banyuwangi telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku hingga 30 Januari 2026. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun di laut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca dari BMKG. Jika hendak beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya mempersiapkan jas hujan atau payung. Nelayan juga diminta mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut,” ujarnya.

Selain wilayah pesisir, BMKG juga mengingatkan potensi dampak cuaca ekstrem di wilayah pegunungan dan dataran tinggi Banyuwangi. Curah hujan yang tinggi berisiko memicu tanah longsor dan runtuhan tebing, terutama di kawasan rawan bencana dan jalur wisata.

“Untuk wilayah dataran tinggi perlu diwaspadai potensi longsor. Secara umum, kondisi cuaca di Banyuwangi masih relatif sama dan merata, dengan potensi hujan ringan hingga lebat dalam beberapa hari ke depan,” pungkas Ibnu.

BMKG Banyuwangi mengajak masyarakat untuk mengakses informasi cuaca terkini melalui kanal resmi, seperti website BMKG serta media sosial Info Jelajah Banyuwangi di Instagram dan Twitter./////////

iklan warung gazebo