Atas inisiatif pribadi, Pak Mulyanto melakukan pembersihan dan penataan. Tahun 1985, Dinas Kepurbakalaan Jawa Timur turun tangan membantu identifikasi dan penyusunan kembali struktur candi.
Meski begitu, perhatian negara masih minim. Mulyanto baru mendapat SK sebagai juru pelihara tahun 1993, dengan insentif sangat terbatas. Ia terus merawat situs hingga pensiun tahun 2018, dilanjutkan oleh putranya, Erdik.

Candi Sapto sendiri lebih sepi dari sorotan, padahal secara arsitektur dan sejarah memiliki nilai penting. Kedua candi itu dibangun dengan bahan batu bata merah dan arca batu andesit—ciri khas bangunan era Majapahit.
“Kalau di Trowulan, candi-candi dari masa Majapahit sudah lebih dikenal. Tapi di sini, di Kasembon, banyak tinggalan sejarah yang belum tersentuh perhatian,” tambah Budi.
Kedua candi itu tak pernah menjadi pusat ritual masyarakat lokal. Justru para peziarah dan penganut kepercayaan Hindu dari luar daerah, seperti Bali atau Kediri, kerap datang untuk sembahyang atau tirakat.
Kini, di tengah gempuran modernisasi dan keterbatasan anggaran, Candi Bocok dan Candi Sapto tetap bertahan. Berkat pengabdian warga dan kesadaran komunitas budaya, keduanya masih berdiri—meski tanpa pagar, tanpa plakat, dan jauh dari gemerlap destinasi wisata sejarah.










