Budi juga menambahkan bahwa di Kementerian Perhubungan juga terdapat skema buy the service (BTS). Dengan adanya hal tersebut, skema BTS akan mengurangi antara cost dengan daya beli masyarakat nantinya ketika nanti bus listrik ini akan dioperasikan di 3 daerah yakni Bandung, Surabaya dan area Bali.

Mendikbudristek Nadiem Makarim juga menyampaikan bahwa program Merdeka Belajar ini adalah contoh sempurna dari gotong royong. Semua pihak mulai dari universitas, dosen, mahasiswa, kementerian, dan BUMN, menuntaskan masalah secara bersama-sama.
“Pada Presidensi G20 ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan keunggulan kita pantas sekali di panggung dunia, kita bisa menghasilkan suatu karya yang datang langsung datang dari akademisi-akademisi kita, dari mahasiswa-mahasiswa kita dan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri ini semakin menguat,” jelas Nadiem.
Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari platform Kemendikbud Ristek yakni Kedai Reka, di mana dunia industri dan dunia Pendidikan memenukan kecocokan bersama.
“Ada platform Kedai Reka, di mana sekarang itu adalah “biro jodoh digital” antara bisnis-bisnis industri korporasi dan peneliti-peneliti dan akademisi di universitas untuk menemukan kecocokan untuk mengerjakan proyek bersama baik itu proyek inovasi, proyek riset dan lain-lain. Dan dana yang disalurkan dari swasta kepada proyek di universitas tersebut akan dipadankan dengan dana dari kementerian, namanya matching fund. Program seperti bus listrik ini (realiasi) terjadinya karena itu,” pungkasnya.///












