Salah satu bentuk implementasi Smart Kampung tersebut adalah pengembangan platform yang dapat memberikan layanan dengan mudah. Khususnya bagi masyarakat pedesaan yang infrastruktur digitalnya masih terbatas.
“Kami kembangkan platform Smart Kampung berbasis website maupun aplikasi smartphone untuk memberikan pilihan dan kemudahan akses kepada semua masyarakat,” terangnya.
Berkat adanya platform Smart Kampung ini, masyarakat mendapat manfaatnya, seperti dalam pengurusan dokumen yang membantu masyarakat kurang mampu dalam mendapatkan berkas untuk berbagai kebutuhannya termasuk berobat ke rumah sakit.
“Ke depan, kami terus mengembangkan Smart Kampung di Banyuwangi untuk diterapkan di berbagai bidang. Kita akan integrasikan sistem kesehatan, pendidikan, termasuk pemeliharaan infrastruktur yang ujungnya dapat mempermudah kerja pelayanan kepada masyarakat,” papar Ipuk.
Dengan dorongan teknologi dan berbagai inovasi program, lanjut Ipuk, tingkat kemiskinan di Banyuwangi bisa terkelola dengan cukup baik. Di masa pandemi, semua daerah se-Indonesia tingkat kemiskinannya naik cukup signifikan. Di Banyuwangi, tingkat kenaikan kemiskinan Banyuwangi selama pandemi 2020-2021 sebesar 0,01 persen, termasuk tingkat kenaikan terendah di Jatim.
Pada 2021, kemiskinan Banyuwangi sebesar 8,07 persen, di bawah rata-rata Jawa Timur dan Indonesia. Sebelumnya tingkat kemiskinan Banyuwangi berada di level dua digit. Adapun pendapatan per kapita masyarakat Banyuwangi meningkat dari hanya Rp20,86 juta (2010) menjadi Rp50,13 per tahun (2020). (*)












