Yuswohadi, yang dikenal sebagai penulis buku “Global Chaser”, menjelaskan bahwa city branding bertumpu pada empat pilar utama, yakni Tourist, Trade, Talent, dan Investor (TTTI). Ia menyebut, branding yang kuat mampu menarik wisatawan, yang kemudian memicu perdagangan, menarik investor, dan mendatangkan talenta untuk mendorong pengembangan daerah.
“Empat elemen ini saling berkaitan dan memberi dampak timbal balik. Jika dijalankan secara konsisten, akan mendorong kemajuan pembangunan daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa menentukan city branding harus dilandasi oleh potensi dan karakteristik daerah. Banyuwangi, lanjutnya, telah tepat dalam memilih pariwisata sebagai positioning utamanya, mengingat banyaknya potensi yang dapat dipasarkan dan sudah terbukti menarik perhatian publik.
Meski demikian, Yuswohadi menegaskan pentingnya konsistensi dalam merawat city branding yang telah terbentuk. Menurutnya, membangun citra memang tidak mudah, namun mempertahankan dan mengembangkannya justru jauh lebih menantang.
“Branding yang telah ada harus terus diperkuat agar berkembang secara organik. ASN sebagai motor penggerak kebijakan daerah memiliki tanggung jawab menjaga dan merawat identitas ini,” tutupnya.









