Agus juga menerangkan, maggot cuman membutuhkan sampah organik untuk tumbuh, selama seminggu belatung yang dihasilkan dari telur lalat hitam (BSF) itu sudah siap panen.
“Dari pembibitan yakni baby maggot sampai nanti besar penjualan (panen), hanya membutuhkan waktu satu minggu. Tergantung makanan itu sendiri,” kata Agus.
Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 2 sampai 5 kali bobot tubuhnya selama 24 jam. Satu kilogram maggot dapat menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik per hari.”Segerombolan maggot ini hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk menjadikan sampah organik bisa terurai,” imbuhnya.
Agus menuturkan, selain bisa mengurai sampah organik, ternyata maggot juga memiliki nilai rupiah. Dimana pangsa pasar maggot adalah para peternak lele, ayam, burung hingga peternak ikan hias.
“Setiap hari kita bisa menghasilkan 75 – 100 kilo maggot, dengan harga per kilogramnya Rp 6 ribu – Rp 7 ribu. Bahkan kami masih kekurangan stok dari permintaan konsumen,” ungkapnya.
Saat ini Bank Sampah terus berupaya melakukan perluasan pengembangan budidaya maggot melalui mitra Bank Sampah, yang tersebar di sejumlah daerah di Banyuwangi.
“Kita kembangkan dengan beberapa mitra yang sudah ada, mulai dari Banyuwangi Kota sampai Rogojampi dan Jajag. Itu tanpa modal, mereka kita berikan bibit secara gratis, melakukan pembesaran, mereka juga tidak kesulitan pemasaran. Karena kita yang membelinya,” pungkas Agus.////











