Hal senada juga disampaikan oleh Dra. Maria Ernawati, M.M., Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dia mengharapkan kepada seluruh para remaja atau calon pengantin, untuk memeriksan status anemia sebelum menikah, perhatikan tumbuh kembang anak. Sebab, stunting bisa dicegah melalui perbaikan asupan bergizi dan stimulasi pada anak. Bebas stunting hanya bisa diwujudkan dengan pola hidup sehat yang membawa anak anak, menuju generasi emas di masa mendatang. Bergerak bersama, maju bersama untuk generasi emas bebas Stunting.
Menurutnya, untuk penanganan stunting tidak dapat dilakukan dengan singkat, harus bertahap. Sehingga, gencar melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat luas. Kalau, masyarakat sudah memahami cara mencegah stunting, maka penanganan dapat dilakukan secara perlahan dan tepat sasaran.
“Diantaranya pencegahan stunting itu, masyarakat hanya perlu memahami seperti apa makanan yang sehat Untuk itu, perlu kesadaran masyarakat untuk bersama-sama melakukan penanganan dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, mencegah pernikahan dini dan melahirkan di usia muda,” katanya.
Sedangkan, Kepala Biro Hukum, Organisasi, Tata Laksana, BKKBN Pusat, dr. Hariyadi Wibowo, SH Mars menerangkan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggencarkan program makanan sehat Atasi Stunting di guna memberikan pemahaman sekaligus edukasi pada masyarakat mengenai asupan gizi seimbang.
“Angka prevalensi stunting nasional sebesar 24,4 persen. Target pemerintah prevalensi angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 adalah 14 persen. Untuk iti, BKKBN terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mencegah stunting. Program bangga kencana, salah satunya penanganan stunting, sehingga kita terus lakukan sosialisasi kepada masyarakat,” terangnya.
Di akhir acara panitia kegiatan sosialisasi melakukan doorprize bagi- bagi hadiah bagi para peserta.












