Besuki: Jejak Karesidenan dan Cikal Bakal Kejayaan Situbondo

by -1 Views
Wartawan: Kadari
Editor: Herry W Sulaksono
Pendopo Pate Alos


Situbondo, seblang.comKabupaten Situbondo menyimpan permata sejarah yang tak ternilai di wilayah baratnya: Besuki. Bukan sekadar kecamatan, Besuki adalah saksi bisu transformasi peradaban sejak era Majapahit hingga masa kolonial, yang kini diperjuangkan untuk tetap lestari sebagai warisan anak cucu.

Nama “Besuki” diyakini berasal dari kata Basuki, yang berarti keselamatan dan kemakmuran. Sejak zaman kerajaan Hindu-Budha, wilayah ini telah memegang peran strategis sebagai jalur perdagangan dan lumbung pertanian di ujung timur Pulau Jawa.


Memasuki era kolonial Belanda, posisi Besuki semakin sentral dengan ditetapkannya sebagai pusat administrasi Karesidenan Besuki. Wilayah kekuasaannya pun tak main-main, mencakup empat kabupaten besar saat ini: Banyuwangi, Jember, Bondowoso, dan Situbondo.

Bicara soal Besuki tak lepas dari sosok legendaris Kyai Pate Alos. Halil Budiarto, pegiat sejarah dan cagar budaya Situbondo, menjelaskan bahwa tokoh yang memiliki nama asli Raden Bagus Kasim Wiradipuro inilah yang berjasa membabat alas hingga Besuki menjadi pemukiman dan kota seperti sekarang.

“Beliau menjalankan perintah dari Djojolelono, Tumenggung Banger (Probolinggo), untuk membuka lahan di Besuki,” tutur Halil, Senin (2/2/2026).

 

Jejak perjuangannya masih bisa diziarahi di makam beliau yang terletak di sebelah barat Kampung Arab, sebelah barat Alun-alun Besuki, berdampingan dengan makam anak dan istrinya.

Status Besuki sebagai “Kota Sejarah” didukung oleh banyaknya situs cagar budaya yang masih bertahan. Di antaranya Gedung Eks Kawedanan (Pendopo Pate Alos), pusat aktivitas pemerintahan masa lalu; Gedung Eks Karesidenan, pusat birokrasi zaman Belanda; Menara Lonceng Masjid Jami’ Baiturrahman sebagai simbol harmoni religi dan arsitektur unik; Dhalem Tengah yang merupakan Rumah kediaman Kyai Pate Alos.

Selain itu juga ada situs lainnya yakni Klenteng tua, rumah Wedono, pos jaga, mercusuar di pesisir, hingga rumah Bupati Besuki pertama.

Halil yang juga merupakan guru sejarah di SMAN 1 Suboh menegaskan bahwa menjaga fisik gedung-gedung tua ini adalah kewajiban mutlak bagi generasi masa kini. Tanpa bukti fisik, sejarah hanya akan menguap menjadi dongeng masa lalu yang kehilangan maknanya.

“Fakta sejarah yang terjaga akan memupuk rasa nasionalisme kita. Kami berharap pemerintah daerah, khususnya Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati, terus konsisten menjaga dan melestarikan warisan ini,” tambahnya.

Melestarikan Besuki bukan sekadar merawat bangunan tua, melainkan menjaga marwah Situbondo. Dengan sejarah yang terawat, Situbondo diharapkan dapat benar-benar “naik kelas” melalui identitas budaya dan potensi wisata sejarah yang kuat.

iklan warung gazebo