Hal yang sama disampaikan oleh Taufik pengelola Rent Car yang basecampnya di Kelurahan Bakungan, “Hari Juma’at dan Sabtu kemarin saya sampai kehabisan unit kendaraan, terpaksa banyak permintaan yang tidak bisa saya layani” ujar pria yang berpengalaman mengelola travel di Bali ini.
Demikian pula untuk tingkat hunian Hotel di Banyuwangi, menurut Alumni Fisip Universitas Jember itu, selama even Gandrung Sewu, mulai 27 hingga 28 Oktober rata-rata tembus di angka 90 persen. Bahkan pada hari pementasan pada 29 Oktober 2022 semua kamar sold out atau tingkat okupansi hotel tembus angka 100 persen.
Ferdian, GM Luminor Hotel menyampaikan dari 81 kamar yang dimiliki Hotel Luminor, pada 28 Oktober tingkat okupansinya tembus 100 persen. Sedangkan pada 29 Oktober sedikit menurun namun masih berada pada angka 90 persen.
Kondisi yang sama juga dirasakan Hotel Santika Banyuwangi, dari 125 kamar yang dimiliki, 122 kamar dihuni tamu. Kemudian pada 29 Oktober tercatat 119 kamar yang terjual.
”Dari 125 Kamar yang kami miliki ada 2 kamar yang tidak ready dan kami pakai sendiri, jadi dihari Jum’at itu 100 persen kamar kami sold out,” ujar Edi GM Hotel Santika.
Semenatra itu M.Y Bramuda, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, mengatakan berbagai event yang di gelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, selain bertujuan untuk promosi dan pelestarian seni budaya, juga dimaksudkan sebagai upaya menggerakkan ekonomi dan diharapkan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi.
“Alhamdulillah dari data yang kami miliki gelaran Gandrung Sewu sangat dirasakan dampak ekonominya oleh masyarakat, khususnya pelaku industri pariwisata. Semoga dari event Gandrung Sewu ini bisa menjadi pengungkit percepatan pemulihan ekonomi pasca pandemi,” ujar Bramuda.////











