Saat evakuasi atlet henti jantung, menurutnya juga dibutuhkan kecepatan. Petugas medis yang menandu pasien harus cepat dengan alur yang telah disimulasikan, tidak memutar-mutar ketika menuju mobil ambulans.
“Mobil ambulans yang di standby kan harus dengan peralatan resusitasi yang lengkap. Seperti, Monitor, Defibrilator, Oksigen dll. Alat harus selalu menempel di dada pasien agar bisa dimonitor dengan baik. Sehingga, aktivitas jantungnya bisa termonitor,” tandas Bobi.
“Dalam kasus kegawat-daruratan olahraga, ambulance dan peralatannya harus lengkap. Ibaratnya, sebagai Mobile IGD. Jadi, dalam perjalanan pasien ke RS sudah tertangani pada menit-menit awal yang krusial. Saat di ruang IGD, sifatnya sudah penanganan lanjutan,” jelas Bobi.
Ia menjelaskan lebih jauh, bahwa selain penanganan medis atlet cedera atau gagal jantung, perlu dipastikan beberapa hal terkait kesiapan medis, berikut alat dan standar prosedur atau tata laksananya.
Menurut dr. Bobi, hal penting yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan even olahraga untuk mengantisipasi cedera atlet adalah kesiapan medical standby, yang sesuai ketentuan dan standar untuk mencegah kecacatan dan kematian atlet.
Tim medis medical standby, lanjutnya, harus cakap dalam kompeten dalam melakukan BHD (bantuan hidup dasar) yang berkualitas tinggi. Personel tim juga harus disesuai jumlah rasio yang dihitung sesuai ketentuan, terkait resiko yang harus ditangani.
“Tim medical stanby harus dilengkapi alat sesuai ketentuan standar, minimal AED dan alat resusitasi lainnya. Sedangkan, kompetensi tim medisnya sendiri, harus memiliki STR SIP dan sertifikat BHD yang masih berlaku,” imbuh Bobi.
Selain itu, menurutnya harus ada rencana kontigensi bila terjadi bencana atau cedera massal. Bahkan, kesiapan media harus dipastikan terlebih dahulu dengan melakukan simulasi, untuk mengecek kesiapan petugas medisnya.
Standar dan pengalaman ini, kata dr. Bobi, pernah dijalaninya saat menjadi bagian tim medis dalam beberapa even olahraga level internasional di Indonesia.
Di antaranya, menjadi tim medis Asian Games dan Para Asian Games 2018, PON XX dan XXI, juga tim medis di arena Sirkuit Mandalika.
“Prinsipnya, setiap even pertandingan olahraga juga harus punya medical center dan dengan kesiapan tim medis sesuai standar. Dari kasus Zhang, penting juga dilakukan audit medis, supaya diketahui standar kesiapan tim medis untuk penyelenggaraan yang safety dan lebih baik kedepannya. Terpenting, agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas dr Bobi Prabowo.









