Selain mengenalkan benda purbakala, pameran juga menampilkan lukisan dan foto-foto tentang Banyuwangi jaman dulu. Dengan demikian, masyarakat dan anak-anak sekolah atau milenial di Banyuwangi tahu sejarah Banyuwangi. Mulai tentang Pantai Boom, Geopark Ijen, gandrung dan lainnya.
“Pameran kepurbakalaan ini juga sebagai media promosi. Jadi, Banyuwangi nantinya tidak hanya dikenal kaya destinasi wisata, tapi juga budaya dan situs yang harus dilestarikan,” ujar Ridho.
Ridho memastikan pameran Banyuwangi Jaman Bengen tahun ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Setiap hari, kata dia, ada seorang narator yang bertugas menjelaskan secara detail cerita tentang benda-benda purbakala di lokasi stand-nya.
“Pengunjung tidak hanya melihat bendanya, tapi juga mengerti kisah dan asal-usulnya. Dengan harapan, mereka bisa lebih menghargai dan mencintai sejarah daerahnya,” kata Ridho.
Dia menambahkan, kegiatan ini dirangkai dengan berbagai agenda menarik. Seperti, Bioskop Keliling Kecagarbudayaan, Pertunjukan Rengganis, Belajar Bersama di Museum, Lomba Teater Osing, dan Night Accoustic Performe. Ada juga seminar hasil kajian koleksi museum Blambangan, Rindik Music Performe, serta Night Accoustic Show.
“Pameran dibuka mulai pukul 08.00-21.00. Kecuali Jumat, dimulai pukul 14.00-21.00,” tambahnya. (*)











