City branding tak hanya soal promosi wisata, melainkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing. Hal ini ditekankan oleh Abdullah Azwar Anas yang selama satu dekade memimpin Banyuwangi berhasil mengubah citra daerah.
“City branding bukan hanya soal promosi, ini soal menyelaraskan seluruh elemen kota, mulai dari alam, budaya, hingga layanan publik, sehingga memberikan pengalaman menyeluruh bagi warga dan pengunjung,” ujar Anas.
City Branding Institute digagas oleh pakar pemasaran Yuswohadi untuk membangun ekosistem city branding di Indonesia. Ia menyebut Banyuwangi sebagai contoh nyata bagaimana city branding mampu mentransformasi citra daerah secara menyeluruh.
“Banyuwangi bisa jadi laboratorium yang bagus bagi daerah yang ingin membangun city branding dari nol,” kata Yuswohadi.
Menurutnya, Banyuwangi berhasil keluar dari stigma masa lalu dan kini dikenal luas karena kekuatan pariwisatanya. “Dari tidak punya (destinasi dan atraksi), kemudian diciptakan hingga menjadi sesuatu yang luar biasa. Ini bisa menjadi role model untuk city branding di Indonesia,” tambahnya.
Keberhasilan Banyuwangi tidak lepas dari kemampuannya mengelola potensi sumber daya lokal secara strategis—mulai dari keindahan alam, kearifan budaya, hingga inovasi layanan publik—yang kemudian dikemas menjadi identitas kota yang kuat dan menarik. Potensi inilah yang kini banyak dipelajari daerah lain dalam membangun narasi dan reputasi wilayahnya masing-masing.///////










