Agenda diawali dengan sesi “Belajar di Museum” bersama para siswa-siswi. Dalam sesi itu, siswa SMP dan SMA menerima materi tentang Sejarah Jalur Kolonial Belanda dan Jepang di Banyuwangi.
Sementara siswa Sekolah Dasar (SD), menyimak cerita Blambangan di masa lalu melalui pertunjukan wayang bambu yang dibawakan oleh Aekanu Haryono, salah seorang budayawan Banyuwangi.
Seorang siswa dari SMAN 1 Giri membagikan keseruannya mengikuti sesi Belajar di Museum. Menurut dia, acara yang digelar Disbudpar Banyuwangi sangat menginspirasi dan berharap agar dapat digelar secara kontinyu di tahun-tahun berikutnya.
“Pastinya benar-benar menginspirasi saya untuk lebih mencintai dan memperjuangkan warisan budaya kami. Saya berharap acara ini dapat terus diadakan setiap tahun, memberikan kesempatan bagi kami semua untuk merayakan kekayaan budaya yang kami miliki,” ungkapnya.
Acara ini turut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan kesenian yang mampu menarik perhatian masyarakat. Semakin sore, masyarakat semakin memadati area acara. Antusiasme mereka pecah ketika menyaksikan penampilan kesenian jaranan yang dibawakan oleh kelompok Jaranan Mekar Sari.
Banjoewangi Kolo Semono akan berlangsung hingga 7 Juni mendatang. Setiap harinya acara dimulai pada pukul 08.00 hingga 21.30 WIB. Masyarakat dapat menyaksikan penampilan berbagai kesenian dan lomba tradisional sembari mengunjungi stand pameran yang menyuguhkan berbagai kuliner dan minuman tradisional, kerajinan tangan bahkan pijat tradisional.












