Terdapat terminal penumpang seluas 7.000 meter persegi dan berkapasitas 3 juta penumpang per tahun. Desain atapnya mengusung tema rumah Suku Osing yaitu masyarakat asli Banyuwangi. Tak heran, arsitektur yang unik ini menjadi salah satu landmark di Jawa Timur.
Sejak tahun 2017, Bandara Banyuwangi dikelola oleh AP II dan terus melakukan pengembangan, termasuk memperkuat implementasi green airport. Bahkan, saat ini bandara tersebut telah memegang sertifikasi Greenship Existing Building.
Penerapan green airport dilakukan melalui program efisiensi dan konservasi energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu sumber energi di bandara.
Panel surya dalam sistem PLTS ini dipasang di atap gedung Airport Rescure and Fire Fighting (ARFF) dan gedung Main Power Station (MPS). Pemanfaatan dilakukan di atas atap seluas 3.300 meter persegi dengan maksimal kapasitas on-grid sebesar 150 KWp (kilowatt peak).
Penghargaan Aga Khan 2022 mengakui bangunan Bandara Banyuwangi berhasil menggabungkan arsitektur ciamik dengan fungsionalitas dan pengaturan disposisi yang optimal. Apalagi dengan teknologi modern yang diusung sehingga implementasi operasional bandara semakin efisien./////









