Tidak semua perwira polisi lahir dari akademi. Sebagian ditempa dari jalan yang lebih panjang dengan memulainya sebagai bintara, bekerja bertahun-tahun di lapangan, lalu perlahan naik ke jenjang kepemimpinan. Jalan itulah yang dilalui Nurmansyah, putra daerah Banyuwangi yang kini menyandang pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP).
Ia lahir pada 1982 dari keluarga sederhana berdarah Bugis yang menetap di ujung timur Pulau Jawa. Lingkungan tempat ia tumbuh tidak jauh dari kehidupan masyarakat pesisir yang keras namun egaliter. Dari lingkungan itulah ia belajar tentang kerja keras dan kedisiplinan—nilai yang kelak membentuk perjalanan kariernya.
Sejak kecil, Nurmansyah sudah menyimpan mimpi mengenakan seragam polisi. Bagi banyak anak di daerah, polisi adalah simbol negara yang paling dekat dengan masyarakat: menjaga ketertiban, menyelesaikan konflik, dan memberikan rasa aman.

Mimpi itu mulai menjadi nyata pada 2002, ketika Nurmansyah diterima sebagai anggota Bintara Polri. Kariernya dimulai dari bawah, menjalani ritme kerja kepolisian yang tidak selalu mudah: tugas lapangan, menghadapi berbagai persoalan keamanan, hingga memahami bagaimana hukum bekerja di tengah masyarakat.
Dalam perjalanan kariernya, Nurmansyah cukup lama ditempa di Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polresta Banyuwangi. Unit ini dikenal sebagai “polisinya polisi” karena bertugas menjaga disiplin dan integritas internal anggota kepolisian. Pengalaman di Propam menjadi sekolah penting bagi Nurmansyah tentang arti kedisiplinan dan integritas dalam institusi.
Setelah bertahun-tahun menjalani tugas sebagai bintara, Nurmansyah mengikuti seleksi Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa). Pendidikan ini merupakan jalur bagi anggota bintara yang ingin naik menjadi perwira. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2017, sebuah titik balik penting dalam perjalanan kariernya.
Usai menyandang pangkat perwira, Nurmansyah dipercaya menangani perkara yang lebih kompleks di bidang penegakan hukum. Ia bertugas sebagai Kanit Pidana Khusus (Pidsus) Polresta Banyuwangi, unit yang menangani berbagai tindak pidana khusus yang membutuhkan penyelidikan mendalam.
Dari sana, kariernya berlanjut ke fungsi reserse di tingkat wilayah. Ia kemudian menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Banyuwangi, posisi yang menuntut kemampuan penyelidikan sekaligus kedekatan dengan dinamika masyarakat di tingkat lokal.
Pengalaman di bidang reserse membawanya masuk ke lingkaran penanganan kasus narkotika. Dalam perjalanan kariernya, Nurmansyah pernah dipercaya menjadi Kasat Resnarkoba Polres Jember. Di jabatan ini, namanya sempat dikenal setelah berhasil mengungkap ladang ganja yang cukup menghebohkan di wilayah Jember.
Setelah bertugas di bidang narkotika, ia kembali ke Banyuwangi dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Kasat Binmas Polresta Banyuwangi. Jabatan ini menempatkannya pada pendekatan yang berbeda: bukan semata penindakan hukum, tetapi juga pembinaan masyarakat untuk mencegah munculnya kejahatan.
Pengalaman yang cukup panjang, mulai dari Propam, reserse, hingga narkotika, menjadi bekal penting ketika rotasi jabatan di tubuh Polri membawanya ke wilayah baru. Pada 2025, Nurmansyah resmi dilantik sebagai Kasat Resnarkoba Polres Probolinggo.
Ia menggantikan pejabat sebelumnya dalam serah terima jabatan yang dipimpin langsung Kapolres Probolinggo, AKBP Wisnu Wardana.
Jabatan tersebut menempatkannya di garis depan dalam pemberantasan narkotika di wilayah Probolinggo. Bagi Nurmansyah, perang terhadap narkoba bukan sekadar tugas struktural, tetapi juga tanggung jawab sosial karena dampaknya yang langsung menyasar generasi muda.
Di luar tugas kepolisian, Nurmansyah juga dikenal aktif di dunia akademik. Ia menyelesaikan pendidikan hukum hingga jenjang magister dan terlibat sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, mempertemukan pengalaman praktik kepolisian dengan dunia pendidikan.
Kini, setelah lebih dari dua dekade mengabdi sejak pertama kali menjadi polisi pada 2002, Nurmansyah menyandang pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP). Perjalanan itu dimulai dari seorang bintara di Banyuwangi, ditempa di Propam, mengasah kemampuan di reserse dan pidana khusus, memimpin satuan narkotika di Jember, hingga akhirnya dipercaya memimpin Satres Narkoba di Probolinggo.
Sebuah perjalanan karier yang tidak instan. Dari kampung di Banyuwangi, langkah kecil yang dimulai lebih dari dua puluh tahun lalu itu perlahan membawanya berdiri sebagai perwira polisi dengan pengalaman lapangan yang panjang sebagai fondasinya./////////////











