Banyuwangi, seblang.com – Dunia sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun dinilai tidak ada perkembangan yang signifikan bahkan bisa dikatakan justru mengalami kemunduran dibandingkan masa kepengurusan PSSI sebelumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ahmad Mustain, Penasehat Paguyuban Supporter Laros Jenggirat (PSLJ) Banyuwangi di rumahnya pada Minggu (12/06/2022).
Menurut dia pelaksanaan kompetisi dan liga sepakbola yang digelar oleh operator dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari terjadinya tindak kekerasan antar suporterr, pemain dan wasit atau perangkat pertandingan, dugaan pengaturan skore, tidak terbayarnya hak-hak pemain setelah kompetisi usai dan lain sebagainya.
“Hal ini salahsatu penyebabnya inkonsistensi pengurus PSSI mulai pusat, provinsi sampai kabupaten / kota dalam mematuhi statuta FIFA yang menjadi dasar memutuskan layak atau tidak sebuah tim sepakbola mengikuti kompetisi,” jelas Tain Laros.
Dia mencontohkan Persewangi Banyuwangi, terpilihnya Hari Wijaya sebagai Ketua pada waktu itu adalah untuk melanjutkan masa bakti pengurus Persewangi yang ketuanya Michael Edy Hariyanto.
Namun dalam perjalanan terjadi dualisme kepengurusan PSSI pusat beberapa tahun lalu yang berdampak pada selalu muncul permasalahan bagi klub yang mengikuti kompetisi yang digelar dalam Indonesia Super League (ISL) maupun Indonesian Premier League (IPL) sampai saat ini, lanjut Tain.
Dalam era dualisme PSSI, Persewangi Hari Wijaya ikut kompetisi ISL dan Persewangi versi H Nanang Nur Achmadi tampil dalam Liga Primer Indonesia. Kedua tim yang tampil dalam ISL maupun IPL .











