Ipuk mengapresiasi AMB yang telah mewadahi arsitek di Banyuwangi untuk menjalin hubungan melalui kolaborasi, karya dan apresiasi. Ipuk juga berharap produk aristektur bukan hanya mementingkan unsur estetika namun harus ada unsur berkelanjutan dan kebermanfaatan.
“Banyuwangi beruntung memiliki arsitek muda yang mau pemahaman mengenai arsitektur kepada masyarakat Banyuwangi. Mudah-mudahan jadi penanda bahwa pembangunan berkelanjutan di Banyuwangi adalah bagian dari hasil tangan kreatif anak mudanya,” tutur Ipuk.
Selama 10 tahun terakhir, Banyuwangi menjadikan arsitek dan arsitektur sebagai bagian integral dalam pembangunan daerah, Sejumlah bangunan publik dibangun tidak sekedar memenuhi fungsinya saja, tapi juga estetis dan berkelanjutan. Seperti bangunan Bandara Banyuwangi, Pendopo Sabha Swagata, Terminal Wisata Terpadu, Gedung Djuang, Taman Blambangan.
Sementara Ketua AMB, Nurfahmi mengatakan sangat mengapresiasi Pemkab yang terus memberi wadah bagi berkembangnya dunia arsitektur di daerah. Sejak Banyuwangi memberikan ruang dengan melibatkan arsitek dalam proses pembangunan daerah, ini menjadi penyemangat bagi mereka untuk berkiprah di daerahnya.
“Kami ini terbentuk 2018, ya sejak Banyuwangi mulai mengenalkan arsitektur dalam pembangunan. Terma kasih, karena Banyuwangi telah memberikan ruang bagi arsitek untuk berkarya,” kata Nurfahmi. (*)












