Geladi digelar dua hari, Senin – Selasa (29 -30/7/2024), dimana para peserta diajak praktik langsung penanggulangan bencana. ” Kegiatan ini sangat bagus dan penting dalam peningkatan kemampuan dan ketepatan penanggulangan bencana yang bisa datang kapanpun,” ujar Sekda Kabupaten Banyuwangi, Mujiono.
Menurut dia, dari rencana tata ruang wilayah (RTRW), Banyuwangi memiliki resiko bencana yang tinggi, khususnya Ijen. Kondisi ini membutuhkan koordinasi yang tepat lintas elemen dalam penanganan bencana. Sehingga, apabila terjadi bencana korban jiwa bisa ditekan.
Tidak hanya bencana Ijen, pihaknya mengajak seluruh elemen ikut siaga penanganan bencana alam yang lain, misalnya; krisis air bersih dan pengairan persawahan untuk ketahanan pangan. “Koordinasi yang tepat tentunya bisa menghasilkan penanganan yang cepat dan tepat dalam kebencanaan,” tutupnya.
Sekadar informasi, Gunung Ijen terakhir kali erupsi pada Agustus 2005. Gunung setinggi 2.769 mdpl itu sempat mengeluarkan embusan solfatara berintensitas kuat disertai sublimasi belerang dari kawah. Kondisi gunung yang masih aktif kerap dilakukan penutupan sementara pendakian.










