Banyuwangi, seblang.com – Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu malam (2/7/2025), tak hanya menyisakan duka, tetapi juga menyulut kemarahan publik.
Lembaga Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) Banyuwangi mendesak pertanggungjawaban dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi serta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ketapang atas musibah yang menelan korban jiwa itu.
Ketua LSM GERAK Banyuwangi, Sulaiman Sabang, S.H., menilai kedua instansi lalai dalam pengawasan keselamatan pelayaran di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Ia menduga kuat bahwa kapal-kapal penyeberangan di jalur tersebut, termasuk KMP Tunu Pratama tidak memenuhi standar laik laut, namun tetap beroperasi.
“Kami menilai KSOP Tanjung Wangi dan ASDP Banyuwangi telah lalai. Banyak kapal disulap tampil bagus hanya dengan cat, tapi kondisi teknisnya jauh dari aman. Ini jelas mengelabui masyarakat dan mengancam keselamatan jiwa penumpang,” ujar Sulaiman kepada seblang.com, Sabtu (5/7/2025).
Sulaiman mengungkapkan, KMP Tunu Pratama Jaya dibuat di Galangan Kalimas, Balikpapan, pada 2010. Namun, ia menyebut bahwa struktur kapal tersebut diduga sudah berusia 25 tahun.
Tampilan luar yang diperbarui dengan cat, menurutnya, tak bisa dijadikan tolok ukur keselamatan. Justru, peremajaan tampilan tanpa disertai pemeriksaan teknis mendalam membuat masyarakat merasa aman padahal tengah menggunakan moda transportasi yang rawan celaka.
“Oleh karena itu, kami mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh armada penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dan meminta agar pemerintah tidak menutup mata atas praktik-praktik manipulatif yang diduga kerap terjadi,” ujarnya.
Belum lagi, lanjut Sulaiman, SOP pelayaran yang sering diabaikan yakni pelashingan kendaraan di dalam kapal. Meskipun terlihat sepele, namun hal kecil ini menentukan keselamatan pelayaran.
“Saya duga dalam tragedi KMP Tunu Pratama ini kendaraan tidak dilasing. Karena kesaksian korban, begitu kapal dihantam ombak besar, kapal langsung miring. Kendaraan dengan muatan berat langsung bergeser dan membuat kapal tidak stabil, miring, lalu tenggelam,” ujarnya.
Tak hanya soal teknis, Sulaiman juga menyoroti persoalan manifes yang tidak akurat. Dalam insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama ditemukan fakta bahwa kapal ini mengangkut puluhan penumpang dan kendaraan, namun banyak korban yang tidak tercatat dalam manifes resmi.










